MANADO sulutberita.com
Ikan Raja Laut atau Latimeria menadoensis (nama lokal) atau juga merupakan spesies ikan purba Coelacanth yang sering dijuluki sebagai "Fosil Hidup", ditemukan seorang nelayan bernama Soni Pontoh dalam kondisi mati, di perairan Pulau Siladen, di Kawasan Taman Nasional Bunaken (TNB), Manado, Provinsi Sulut, pada Jumat, 26 Juni 2026.
Adapun ikan yang diketahui memiliki garis keturunan sejak ratusan juta tahun lalu, dengan bentuknya tidak banyak berubah. Hewan yang memiliki kehidupan dibawah laut dalam ini sebelumnya dianggap punah bersama Dinosaurus pada puluhan juta tahun lalu, yang akhirnya sebelumnya ditemukan kembali berada di perairan Afrika Selatan pada 1938 dan di Sulawesi Utara pada 1997.
Atas penemuan hewan purba dengan ukuran panjang 105 sentimeter, lebar 30 sentimeter dan berat 30 kilogram tersebut, langsung ditindaklanjuti Balai Taman Nasional (TN) Bunaken dengan melakukan penanganan cepat dan terpadu, sehingga memastikan ikan tersebut bisa dimanfaatkan bagi kepentingan konservasi, penelitian, dan pendidikan.
Ikan kemudian dibawa ke darat sebelum informasi penemuan disampaikan kepada pihak Universitas Sam Ratulangi dan diteruskan kepada Balai TN Bunaken.
Kepala Balai TN Bunaken, I Ketut Catur Marbawa pun mengungkapkan setelah proses identifikasi dan pendokumentasian, Balai TN Bunaken melakukan koordinasi dengan berbagai pihak. Spesimen kemudian dibawa ke Kantor Balai TN Bunaken sebelum diserahkan kepada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Sam Ratulangi untuk diawetkan sebagai bahan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Coelacanth merupakan salah satu ikan purba paling langka di dunia dan hanya memiliki dua spesies yang masih bertahan hidup, salah satunya adalah Latimeria menadoensis yang ditemukan di perairan Sulawesi Utara. Spesies ini berstatus Vulnerable (Rentan) dalam Daftar Merah IUCN dan tercantum dalam Appendix I CITES, sehingga perdagangan internasional untuk tujuan komersial dilarang.
Balai TN Bunaken menilai penemuan ini memiliki arti penting bagi konservasi karena dapat memperkaya data ilmiah mengenai biologi, morfologi, genetika, dan distribusi Coelacanth. Data tersebut diharapkan menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan konservasi berbasis ilmu pengetahuan sekaligus memperkuat pengelolaan kawasan Taman Nasional Bunaken.
Balai TN Bunaken juga menyampaikan apresiasi kepada nelayan yang telah melaporkan penemuan tersebut. Kepedulian masyarakat dinilai menjadi contoh nyata sinergi antara masyarakat.
(**/Is)

