MANADO sulutberita.com
Menjadi Inspektur Upacara (Irup) Peringatan Hari Lahir (Harlah) Pancasila 1 Juni 2026, Gubernur Sulut Yulius Selvanus sebut, upacara ini sebagai peringatan atas moment paling bersejarah.
Ini dikatakan Gubernur Yulius saat saat diwawancara wartawan usai upacara bendera, Senin 1 Juni 2026.
“Baru saja kita selesai melaksanakan upacara hari lahir Pancasila, dan ini serentak. Tentunya kita ketahui bahwa 1 Juni itu adalah moment yang paling berharga. Dimana Bapak Insinyur Soekarno saat itu mendeklarasikan di pidatonya yang pertama di depan BPUPKI, bahwa teks Pancasila ini adalah sebagai dasar falsafah negara Republik Indonesia, Itu disampaikan di 1 Juni, dan di 17 Agustus saat hari kemerdekaan, itu disampaikan,” jelas Gubernur.
Dan hari bersejarah ini harus diperingati oleh generasi penerus bangsa. “Jadi saya rasa hari ini sangat bersejarah dan kita sebagai penerus-penerus tentunya selalu mengingat, memelihara, menjaga supaya Pancasila ini menjadi sebagai pedoman hidup bangsa Indonesia, Tetap semangat, salam Pancasila,” tegasnya.
Upacara yang dilaksanakan di halaman kantor gubernur dihadiri Wagub Victor Mailangkay, Sekprov Tahlis Gallang, serta jajaran eselon II Pemprov Sulut.
Upacara diawali dengan pengibaran bendera Merah Putih oleh Paskibraka Sulut periode 2025-2026.
Sambutan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Yudian Wahyudi.
Salam Pancasila!
Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Hari ini, 1 Juni 2026, kita kembali berdiri di atas tanah pusaka untuk memperingati Hari Lahir Pancasila. Lebih dari sekadar seremoni tahunan, hari ini adalah moment refleksi untuk memastikan bahwa api Pancasila tetap menyala dalam jiwa setiap insan Indonesia.
Tema yang diusung dalam peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 adalah “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, sebuah pernyataan tegas bahwa nilai-nilai luhur Pancasila tidak hanya relevan untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia, namun demikian juga menjadi jawaban terciptanya perdamaian dunia yang abadi.
Pancasila adalah “bintang penuntun” yang telah membuktikan ketangguhannya.
Di tengah dunia yang diwarnai ketidakpastian dan ancaman fragmentasi, Indonesia tetap berdiri kokoh sebagai contoh nyata bagaimana keberagaman yang terdiri atas lebih dari 17.000 pulau dan ratusan etnik dapat disatukan dalam satu ikatan kebangsaan. Pancasila adalah “jangkar moral” kita dalam menghadapi turbulensi global, mulai dari disrupsi teknologi hingga dinamika geopolitik.
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Indonesia bukan hanya penonton dalam kancah dunia. Sesuai amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, kita memiliki tanggung jawab konstitusional untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Pancasila adalah fondasi dari kebijakan luar negeri kita yang bebas aktif. Nilai musyawarah dan mufakat yang kita anut adalah instrumen diplomasi yang sangat dibutuhkan dunia saat ini untuk menjembatani perbedaan dan menghentikan konflik.
Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Indonesia Raya bukanlah mimpi kosong. Namun, kemajuan ekonomi dan teknologi tanpa arah moral bisa menyesatkan. Oleh karena itu, saya mengajak seluruh elemen bangsa, terutama generasi muda sebagai penjaga masa depan, untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup (living ideology). Jangan biarkan nilai-nilai luhur ini hanya menjadi hiasan di dinding kantor atau teks di buku sejarah.
Kepada para Menteri dan Kepala Daerah, saya titipkan Pancasila di tangan kalian. Pastikan setiap kebijakan publik yang lahir berlandaskan keadilan sosial memenuhi rasa keadilan publik, menjamin hak-hak masyarakat terkecil, dan tidak membiarkan ada rakyat yang merasa ditinggalkan. Kita harus terus melawan segala bentuk intoleransi dan radikalisme yang dapat merusak harmonisasi kebangsaan kita.
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, mari kita teguhkan kembali komitmen kebangsaan kita. Mari kita tunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang menjunjung tinggi religiusitas dengan semangat persatuan dan kuat karena nilai-nilai kemanusiaannya.
Selama darah Indonesia masih mengalir di tubuh kita, Pancasila akan senantiasa hidup dalam setiap denyut nadi seluruh anak bangsa di Republik yang kita cintai.
Selamat Hari Lahir Pancasila!
Jayalah Indonesiaku!
Merdeka!
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Om Shanti Shanti Shanti Om,
Namo Buddhaya,
Rahayu, Rahayu, Rahayu,
Salam Pancasila!
Kepala Badan Pembinaan
Ideologi Pancasila Yudian Wahyudi.

