MINAHASA UTARA sulutberita.com
Sebagai "jantung" dalam pergerakan kelapa di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Kabupaten Minahasa Utara (Minut) tepatnya di Desa Matungkas, Kecamatan Dimembe, menjadi lokasi lahan yang dicanangkan pemerintah pusat sebagai daerah percepatan hilirisasi perkebunan kelapa yang diproyeksikan menjadi penggerak baru ekonomi daerah, pada Senin 2 Februari 2026.
Kegiatan berupa penanaman kelapa perdana yang dilakukan Wakil Gubernur Sulut Victor Mailangkay bersama Sekretaris Daerah (Sekda) Minut, Novly Wowiling, beserta Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Kuntoro Boga Andri, itu pun menjadi momentum titik awal penguatan industri kelapa berbasis nilai tambah.
Kuntoro menjelaskan, bahwa hilirisasi dilakukan melalui peremajaan dan perluasan areal tanam untuk mendongkrak produktivitas. Dimana.di tahun 2026 ini, sekitar 18.000 hektare kelapa di Sulawesi Utara akan diremajakan dengan varietas lokal unggul dan varietas baru berproduktivitas tinggi.
“Minahasa Utara memiliki potensi besar. Kita ingin kebun-kebun rakyat kembali produktif dan hasilnya tidak berhenti pada buah atau kopra saja,” ujarnya sembari menegaskan bahwa selama ini sebagian besar petani masih menjual kelapa dalam bentuk mentah, padahal potensi produk turunannya sangat luas.
"Dari nira yang bisa diolah menjadi gula semut, batok menjadi arang, hingga sabut menjadi cocopeat bernilai ekspor, seluruhnya membuka peluang nilai tambah berlipat ganda. Kalau hilirisasi berjalan maksimal, nilai tambahnya bisa meningkat berkali-kali lipat. Petani tidak lagi hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi bagian dari rantai industri,” terang Kuntoro.
Sementara itu, Wagub Victor Mailangkay dalam sambutannya menyampaikan bahwa bagi masyarakat “Bumi Nyiur Melambai”, kelapa bukan sekadar komoditas, melainkan identitas dan nafas ekonomi daerah.
“Tidak ada bagian dari pohon kelapa yang sia-sia. Dari buah hingga akar, semuanya memberi manfaat. Harapan kita, apa yang ditanam hari ini di Minahasa Utara akan bertumbuh subur dan membawa kesejahteraan nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Adapun program ini, sejatinya telah dimulai sejak 2025. Tahun ini skalanya melonjak signifikan yang menandakan keseriusan pemerintah menjadikan Sulawesi Utara khususnya Minahasa Utara, sebagai model pengembangan kelapa terintegrasi.
(Mild/**)

